Minggu lalu saya melihat iklan rumah dijual di Poskota yang sangat sesuai dengan kriteria rumah idaman yang kami cari. Dekat dengan orang tua saya (sehingga mudah bila perlu menitipkan anak kami yang masih balita), LB/LT 45/97 sudah sangat luas bagi kami, rumah sudah direnovasi, pokoknya tinggal pindahan barang saja, sudah siap ditempati langsung.
Pertama kami kontak lewat telepon, negosiasi harga, setelah deal kami minta ketemu dengan si penjual. Orangnya menjanjikan hari Sabtu bisa ketemu jam 9 pagi.
Sementara itu saya langsung sibuk mendatangi Bank-bank untuk minta informasi mengenai pengajuan KPR. Saya fokuskan ke Bank Syariah, karena cicilannya flat/tetap, tidak perlu khawatir mengenai tingkat suku bunga floating yang bisa cepat naik (tapi susah turunnya).
Besoknya kami konfirmasi dulu sebelum ke rumah tsb., ternyata si penjual tidak bisa datang, lalu dijadwal ulang sorenya. Sampai malam tidak ada kabar dari si penjual.
Hari Minggunya kita tunggu-tunggu lagi sms atau telepon dari si yang punya rumah. Tidak ada juga. Akhirnya orang tua saya menelpon kembali orang tsb. dan dia menyuruh kami menemui tetangganya saja (orang tuanya).
Hari Senin ayah saya menemui si ibu penjual rumah, tetapi beliau tidak memiliki surat-surat rumah tsb., sedang kami butuh fotocopy sertifikat SHM, IMB dan PBB untuk proses pengajuan KPR. Ayah saya menelpon kembali si penjual rumah meminta berkas-berkas yang kami butuhkan. Tetapi jawabannya sungguh mengecewakan, si penjual meremehkan kemampuan kami membeli rumah lewat KPR. Intinya, dia sangat yakin bahwa pengajuan KPR kami akan ditolak. Dan menolak (secara halus) untuk bekerja sama dalam proses pengajuan KPR ke bank.
Sedih sekali rasanya, rumah idaman yang sekian lama kami cari, ternyata setelah ketemu dan kami niat membeli, terganjal oleh sikap si penjual rumah yang tidak mau membantu proses KPR ke bank. Mungkin rumah tsb. bukan jodoh kami. Mudah-mudahan niat kami untuk segera memiliki rumah idaman segera tercapai. Amin...


0 komentar:
Poskan Komentar